From parents to parents, let's together do our best to keep our children in good health and good environment. Share..share and share..

Thursday, May 26, 2005

Kesulitan Makan pada Anak, Permasalahan dan Solusi Penanganan

KESULITAN MAKAN PADA ANAK
”PERMASALAHAN DAN SOLUSI PENANGANAN”


Dr Widodo Judarwanto SpA,
Klinik Kesulitan Makan Anak (Picky Eater Clinic), Children Family Clinic Jakarta
Jl Rawasari Selatan 50 Cempaka Putih Jakarta Pusat
Email : wido25@hotmail.com, (021) 4264126, 70081995, 0817171764

1. PENDAHULUAN

Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Optimalisasi tumbuh dan kembang Anak sejak dini adalah menjadi prioritas utama. Sehingga, kita dapat mencegah atau mengetahui sejak dini gangguan dan kelainan pada anak. Salah satu masalah yang sering dialami adalah kesulitan pemberian makan pada anak yang secara langsung mengganggu tumbuh kembang anak.


Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.

Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Kesulitan makan pada anak sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Sebuah klinik perkembangan melaporkan jenis kesulitan makan terbanyak adalah anak yang hanya mau makanan lumat atau cair, kesulitan mengunyah dan menelan dan kebiasaan makan yang aneh dan ganjil. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6 tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan.


II. DEFINISI

Kesulitan makan adalah merupakan suatu gejala dari berbagai penyakit atau gangguan fungsi tubuh, bukan merupakan suatu bentuk diagnosis atau penyakit tersendiri. Definisi kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

Palmer mendifinisikan masalah makan atau penolakan terhadap makanan tertentu sebagai akibat disfungsi neuromotorik, gangguan saluran cerna atau faktor psikososial yang mempengaruhi makan atau kombinasi dua atau lebih penyebab tersebut.

Peneliti lain membuat definisi bahwa masalah makan terjadi bila anak hanya mampu menghabiskan kurang dari 2/3 jumlah makanannya sehingga kebutuhan nutrien tidak terpenuhi.



Beberapa tampilan klinis kesulitan makan pada anak dapat berupa :

- Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak.
- Makan berlama-lama dan memainkan makanan.
- Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut.
- Memuntahkan atau menumpahkan makanan
- Menepis suapan dari orangtua
- Tidak mengunyah tetapi langsung menelan makanan
- Kesulitan menelan, sakit bila mengunyah atau menelan makanan


Klinik perkembanganan anak Affiliated Program for children Development di di Universitas George town melaporkan jenis kesulitan makan pada anak sesuai dengan jumlahnya adalah :

1. Hanya mau makan makanan cair atau lumat 27,3%
2. Kesulitan menghisap, mengunyah atau menelan 24,1%
3. Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil 23,,4%
4. Tidak menyukai variasi banyak makanan 11,1%
5. Keterlambatan makan sendiri 8,0%
6. Mealing time tantrum 6,1%


III. PENYEBAB

Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak dan luas. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.



A.GANGGUAN PENCERNAAN

Gangguan pencernaan pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan. Baik karena gangguan saluran cerna itu sendiri atau karena gangguan fungsi tubuh atau penyakit lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang dapat terjadi adalah imaturitas saluran cerna, alergi makanan, intoleransi makanan, gastroesofagial refluks dan sebagainya. Gastroesofageal refluks adalah masuknya kembali isi lambung ke bagian yang lebih atas dari saluran cerna. Tampilan klinis yang terjadi adalah muntah yang sering hilang timbul.

Gangguan pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan pencernaan berikut ini yang dapat menyertai keluhan kesulitan makan pada anak.

· Perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin.

· Sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah.

· Sering nyeri perut sesasaat, bersifat hilang timbul.

· Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (>2 kali/perhari).

· Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah.

· Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur.

· Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau

· Biasanya disertai gangguan kulit : kulit kering, timbul bintik-bintik dikulit, biang keringat, bercak warna putih (seperti panu) dan sebagainya


Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa oleh orang tua bahkan banyak dokter atau klinisi karena sering terjadi pada anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang mungkin berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.

B. INFEKSI AKUT

Infeksi akut adalah infeksi yang mengganggu tubuh kita dalam waktu singkat atau kurang dari 7 hingga 14 hari. Infeksi akut yang mengganggu proses menelan dan proses makan di antaranya adalah : Infeksi Saluran napas Akut, infeksi pada rongga mulut (sariawan, jamur dll), infeksi saluran pencernaan, atau penyakit infeksi akut lainnya. Adalah wajar bila anak mengalami infeksi akut seperti tersebut di atas maka terjadi kesulitan makan. Biasanya dengan pemberian vitamin nafsu makanpun tidak banyak membantu masalah kesulitan makan tersebut. Hal tersebut hanya terjadi dalam waktu 5 hingga 7 hari, akan membaik dengan sendirinya setelah infeksi tersebut teratasi. Malahan setelah fase konvalesen atau penyembuhan akan terjadi catch up growth atau mengejar kekurangan sebelumnya. Makanya sehabis sakit biasanya nafsu makan akan meningkat pesat sekitar 3 sampai 7 hari, tetapi setelah itu nafsu makan tersebut akan normal lagi.


C. INFEKSI KRONIS

Sedangkan infeksi kronis biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu bahkan bisa berbulan-bulan. Pada anak infeksi kronis yang sering dicurigai adalah penyakit Infeksi Saluran Kencing, Tuberculosis (TBC), infeksi parasit Cacing dan sebagainya.



1. INFEKSI SALURAN KENCING
Gejala yang paling khas adalah bila kencing meringis, geli atau menangis karena nyeri atau rasa kurang enak. Biasanya disertai nafsu makan berkurang, sulit buang air besar atau diare, muntah dan panas badan. Diagnosis pasti infeksi saluran kencing adalah dengan pemeriksaan kultur urine bukan pemeriksaan urine biasa (sedimen urine). Pengobatannya tergantung hasil kultur urine dan senitifitas kumannya.

2. INFEKSI PARASIT CACING
Infeksi parasit cacing dapat juga menyebabkan gangguan saluran cerna yang akhirnya dapat mengganggu nafsu makan pada anak. Biasanya terjadi pada anak di atas usia 3 tahun. Untuk memastikan infeksi parasit cacing ini harus diperiksa melalui pemeriksaan tinja.


3. PENYAKIT TUBERKULOSIS
Penyakit TBC sering dianggap biang keladi penyebab utama kesulitan makan pada anak. Diagnosis pasti TBC anak sulit oleh karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis - klinis.

Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis. Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakkan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.

Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi oleh si anak, karena anak harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati,persyarafan telinga dan organ tubuh lainnya.

Sering terjadi anak dengan keluhan alergi pernapasan dan pencernaan yang disertai berat badan yang kurang dan sulit makan diobati sebagai penyakit Tuberkulosis (TBC) paru yang harus minum obat selama 6 bulan hingga 1 tahun. Padahal belum tentu anak tersebut mengidap penyakit tuberculosis. Bahkan orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi tersebut sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.


Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan seksama tentang adanya
· Gejala klinis
· Kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif).
· Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah Foto polos dada (roentgen)
· tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).


Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas

Karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).


D. ALERGI MAKANAN

Alergi makanan pada anak terutama bila mengganggu pencernaan tampaknya sering mengakibatkan gangguan kesulitan makan pada anak. Meskipun alergi belum banyak diungkapkan oleh para klinisi sebagai penyebab kesulitan makan pada anak, tetapi penulis menganggap alergi adalah sebagai penyebab yang paling sering dan penting terhadap kesulitan makan pada anak sehingga akan dibahas dalam bab khusus. Gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi makanan sangatlah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.


E. GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU

Beberapa gangguan perkembangan dan perilaku tertentu pada anak sering berkaitan dengan gangguan makan atau kesulitan makan. Gangguan tersebut meliputi : Autism, ADHD, dan gangguan lainnya. Gangguan perilaku tersebut sering berhubungan dengan gangguan pencernaan. Menurut teori ”Gut Brain Axis” gangguan pencernaan akan mengeluarkan zat semacam morfin yang dapat mengganggu otak yang dapat mengakibatkan meningkatnya ganggua Atism, ADHD dan sebagainya. Sedangkan gangguan pencernaan itu sendiri dapat menyebabkan kesulitan makan pada anak.


F. KELAINAN BAWAAN

Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.

Diantaranya adalah kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar, tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.


G. KELAINAN HORMONAL DAN METABOLIK

Meskipun jarang kelainan metabolik dan hormonal pada anak dapat menyebabkan gangguan atau kesulitan makan pada anak. Kelainan tersebut meliputi hipotiroid, intoleransi fruktosa heriditer, asidemia organic, gangguan atau kelainan ginjal, gangguan hormonal, gangguan enzim tertentu din pencernaan dan sebagainya.

H. KELAINAN NEUROLOGI ATAU SISTEM SUSUNAN SARAF PUSAT

Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis.. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan perilaku dan perkembangan lainnya.

I. GANGGUAN FUNGSI ORGAN DIDAPAT

Gangguan fungsi fungsi pencernaan dapat terjadi karena gejala sisa akibat sebelumnya terjadi proses atau penyakit seperti infeksi (ensefalitis/infeksi otak), akibat operasi bedah (pemotongan usus) atau trauma atau kecelakaan di organ perut yang berat.

J. GANGGUAN PSIKOLOGIS

Ganguan psikologis sering dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Hal ini akan dibahas pada bab khusus berikut ini.



Diantara beberapa penyebab kelainan tersebut tampaknya yang paling sering terjadi adalah alergi, infeksi akut dan kronis, gangguan pencernaan dan psikologis, sedangkan penyebab lainnya sangat jarang terjadi.



IV. GANGGUAN SALURAN CERNA PENYEBAB GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU ANAK

Penyebab tersering kesulitan makan pada Anak tampaknya adalah gangguan saluran cerna. Belakangan terungkap teori “Gut Brain Axis” bahwa gangguan saluran cerna menimbulkan gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, ADHD hingga autism



Sehingga sering anak dengan kesulitan makan yang disebabkan karena gangguan saluran cerna tampak timbul gejala gangguian perkembangan dan perilaku seperti di bawah ini :

· GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN

usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala ke belakang-membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}, sering memanjat.

· GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara/tertawa/berteriak dlm tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk,mimpi buruk, “beradu gigi”

· AGRESIF sering memukul kepala sendiri,orang atau benda di sekitarnya. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)

· GANGGUAN KONSENTRASI/ GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN: cepat bosan thd sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi, sulit belajar lama, sering tidak teliti, sulit mendengarkankan pelajaran sekolah,

· GANGGUAN EMOSI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala

· GANGGUAN KOORDINASI :

BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK tidak sesuai usia. Berjalan sering terjatuh dan terburu-buru, sering menabrak, jalan jinjit, duduk leter W/kaki ke belakang.

· KETERLAMBATAN BICARA Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, hanya 4-5 kata umur 20 bulan, kemampuan bicara hilang dari yang sebelumnya bisa, biasanya > 2 tahun membaik.

· IMPULSIF : banyak bicara/tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain

· HIPERAKTIF (ADHD/ADD)

· Memperberat gejala AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi)


V. KOMPLIKASI

Kesulitan makan pada anak yang terjadi dalam jangka waktu lama dan sering berulang dapat menimbulkan pengaruh tidak baik pada berbagai organ dan fungsi tubuh. Gangguan tersebut dapat mengakibatkan komplikasi beberapa penyakit dan kondisi tertentu, diantaranya Kurang Kalori Protein (KKP), marasmik, kwasiorkor, gangguan mental dan kecerdasan dan sebagainya.



A. KURANG KALORI PROTEIN (PROTEIN ENERGY MALNUTRITION).

Kesulitan makan pada anak yang berkepanjangan bisa mengakibatkan kekurangan protein, karbohidrat dan beberapa vitamin dan mineral. Kekurangan beberapa zat gizi tersebut akan membuat anak jatuh dalam keadaan Kurang kalori Protein (KKP). KKP merupakan penyakit gangguan gizi yang cukup penting di Indonesia. Di Indonesia angka kejadiannya cukup tinggi pada anak di bawah 5 tahun. Untuk menentukan klasifikasi berat ringannya KKP dapat menggunakan beberapa cara, yang paling sewring digunakan dan cukup mudah adalah dengan melihat berat badan dan umur anak disesuaiakan dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat).

Gejala klinis KKP sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanya kekurangan energi dan protein, umur pemderita dan adanya gejala kekurangan vitamin dan mineral lainnya. Beberapa bentuk penyakit Kekurangan Kalori Protein pada anak adalah KKP ringan, Marasmik dan kuasiorkor.

KWASHIORKOR

Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut busung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit. Terdapat juga gangguan perubahan mental yang sangat mencolok. Pada umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.


MARASMIK

Marasmik adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.



B. KEKURANGAN VITAMIN DAN MINERAL

Kesulitan makan yang berlangsung lama mengakibatkan kekurangan vitamin dan mineral tertentu. Kekurangan zat vitamin dan mineral tertentu mengakibatkan gangguan dan kelainan tertentu pula pada tubuh anak.

Karena begitu banyaknya jenis vitamin dan mineral dan begitu luasnya fungsi dan organ tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak dan luas. Adapun beberapa contoh penyakit kekurangan vitamin dan mineral tersebut adalah :



C. ANEMIA GIZI

Anemia gizi adalah kurangnya kadar Hemoglobin pada anak yang disebabkan karena kurangnya asupan zat Besi (Fe) atau asam Folat. Gejala yang bisa terjadi adalah anak tampak pucat, sering sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya. Keadaan dapat terjadi pada anak dengan kesulitan makan karena kurangnya asupan gizi dan makanan tidak memenuhi gizi seimbang. Sumber makanan kaya besi yang mudah terserap umumnya banyak terdapat pada protein hewani seperti hati, daging dan ikan.


V. PENANGANAN

Pendekatan dan penanganan terbaik pada kasus kesulitan makan pada anak bukanlah dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan yang cermat, teliti dan terpadu. Pemberian vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut. Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai vitamin tetapi tidak kunjung membaik.



A. PASTIKAN APAKAH BETUL ANAK MENGALAMI KESULITAN MAKAN


Langkah awal yang harus dilakukan orang tua adalah medeteksi apakah betul anak telah mengalami kesulitan makan pada anak. Untuk itu orang tua harus memahami apakah kesulitan makan pada anak itu. Hal ini sudah diungkapkan pada bab sebelumnya. Bila memang terjadi kesulitan makan pada anak sebaiknya orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter.



B. IDENTIFIKASI PENYEBAB

Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Jangan terlalu mudah menganggap penyebabnya karena masalah psikologis sebelum kita menyingkirkan penyebab fisik atau organik lainnya. Penyebab fisik atau organik kesulitan makan tampaknya yang sering adalah karena gangguan saluran cerna (alergi makanan , celiac disease, intoleransi makanan, dll),. Sedangkan penyebab yang lain relatif sangat jarang terjadi.. Kesulitan makan kalau tidak cepat di atasi akan menimbulkan komplikasi yang lebih berat baik karena penyebab penyakit tersebut atau karena akibat gangguan makan itu sendiri. Kesulitan makan yang terjadi sejak lahir atau bayi usia muda maka penyebabnya kemungkinan adalah kelainan bawaan, cacat bawaan atau alergi. Bila Penyebabnya karena alergi makanan maka harus diidentifikasi penyebabnya sedini mungkin. Harus dievaluasi semua jenis makanannya termasuk susu formula yang diminum.

Bila terdapat kesulitan makan yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu sebaiknya harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang biasa merawat. Dengan penanganan awal namun kesulitan makan tidak membaik hingga lebih 1 bulan disertai dengan gangguan kenaikkan berat badan dan belum bisa dipastikan penyebabnnya maka sebaiknya dilakukan penanganan beberapa disiplin ilmu. Koordinator penanganannya adalah dokter anak atau dokter tumbuh kembang anak. Dokter anak yang merawat harus mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak dengan minat subspesialis tertentu untuk menyingkirkan kelainan organik atau medis sebagai penyebab kesulitan makan tersebut. Bila dicurigai adanya latar belakang psikologis maka kelainan makan tersebut harus dikonsultasikan pada psikiater atau pskolog anak.


C. TANGANI PENYEBAB UTAMANYA

Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan kelainannya.

Bila dalam waktu satu bulan kesulitan makan tidak kunjung membaik disertai penurunan atau tidak meningkatnya berat badan dan belum ditemukan penyebabnya kita harus waspada. Sebelum menjadi lebih berat dan timbal komplikasi yang lebih berat maka bila perlu dalam penanganan kesulitan makan tersebut harus melibatkan berbagai disilpin ilmu kedokteran. Dokter spesialis dengan peminatan tertentu yang sering berkaitan dengan hal ini adalah : Dokter Spesialis Anak minat gizi anak, tumbuh kembang anak, alergi anak, neurologi anak atau psikiater anak, psikolog anak, Rehabilitasi Medis, dan beberapa subspesialis lainnya. Bila masalah gangguan pencernaan cukup menonjol maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak gastroenterology, bila masalah alergi yang dominan maka konsultasi ke dokter alergi anak demikian seterusnya.

Amat penting untuk melibatkan semua orang yang berkaitan dengan pemberian makan pada anak seperti orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya, sehingga mereka harus menerima informasi yang jelas dan rinci tentang penanganan masalah tersebut.

Penyebab kesulitan makanan demikian kompleks dan luas, kadang penyebabnya lebih dari satu bahkan satu sama lain saling mempengaruhi dan memberatkan. Sehingga sering terjadi kebingungan pada orang tua, karena beberapa diagnosis dan penanganannya sangat berbeda atau bertentangan antara dokter satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara dokter yang merawat atau mungkin juga sering terjadi penanganan penyakit anak yang ditangani secara sepotong-sepotong. Paling ideal dalam menangani kasus seperti ini adalah dengan cara holistik, dimana semua yang dicurigai sebagai penyebab dicari dan ditangani secara tuntas secara bersamaan. Dokter yang harus merawat melakukan komunikasi satu sama lainnya, baik melalui rekam medis (catatan penderita) atau hubungan langsung.

Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik, dan lain-lain. Dalam beberapa kasus, kesulitan makan pada anak bisa disembuhkan hanya dengan mengganti peralatan makan seperti dot, botol, sendok, dan sebagainya, yang sesuai dengan kondisi fisiologis anak. Kesulitan makan yang bukan akibat gangguan fisik, bisa dicegah orangtua sedini mungkin.

Pemberian vitamin tertentu sering dilakukan oleh orang tua atau dokter pada kasus kesulitan makan pada anak. Menurut penulis tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut, padahal bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.

D. IDENTIFIKASI KOMPLIKASI YANG TERJADI

Setelah memastikan adanya kesulitan makan pada anak dan mencari penyebabnya, selanjutnya langkah yang terpenting adalah mendeteksi adakah komplikasi yang ditimbulkan oleh kesulitan makan pada anak tersebut.

Kesulitan makan yang berkepanjangan akam mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan adanya kekurangan asupan gizi berupa kekurangan kalori, protein, vitamin dan beberapa mineral. Tahap awal dalam identifikasi tersebut yang paling sensitif adalah memantau berat badan, tinggi badan atau ukuran parameter pemantauan status gizi lainnya seperti lingkar lengan atas, lingkar kepala dan sebagainya. Bila terdapat gangguan pada kenaikan berat badan maka kasus kesulitan makan tersebut dicegah agar tidak lebih berkepanjangan dan harus segera ke dokter. Selanjutnya orang tua harus mendapat informasi dari dokter apakah sudah terdapat komplikasi pada anak. Untuk memantau komplikasi yang terjadi kita harus mengetahui tanda dan gejala yang mungkin terjadi pada anak (lihat bab komplikasi).

Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering dilakukan pemberian obat tradisional.



VI.PEMBERIAN VITAMIN, OBAT DAN RAMUAN TRADISIONAL

Penanganan kesulitan makanan yang sering terjadi adalah dengan pemberian vitamin, obat atau ramuan tradisional. Pemberian tersebut kadang berhasil tetapi sering juga tidak berpengaruh terhadap perbaikkan kesulitan makan tersebut.



1. Pemberian Vitamin

Para orang tua bahkan beberapa dokter masih mempunyai kebiasaan bahwa untuk mengatasi kesulitan makan pada anak adalah memberikan vitamin penambah nafsu makan tanpa memperhatikan penyebab kesulitan makan itu sendiri. Cara tersebut sebenarnya tidak menyelesaikan masalah, karena bila penyebabnya tidak ditangani dengan benar maka bila vitamin tersebut habis maka anak kembali akan tetap mengalami sulit makan. Bahkan banyak kasus didapatkan dengan berganti-ganti beberapa vitamin kemampuan makan anak tidak kunjung membaik.

Pemberian vitamin memang berguna dan dibutuhkan bila memang asupan beberapa vitamin dan mineral tidak mencukupi terutama pada anak dengan berat badan yang kurang. Hal ini mungkin cukup bermanfaat sehingga mencegah anak mengalami kekurangan vitamin dan mineral tertentu yang dapat menyebabkan gejala tertentu.

Pemberian vitamin pada anak yang sehat dengan berat badan yang bagus dan asupan makanan yang baik tidak terlalu penting, karena kebutuhan terhadp vitamin dan mineralnya sudah tercukupi dari susu dan makanannya.

Harus dipahami bahaya kelebihan vitamin atau mineral yang sering disebut megavitamin dan megamineral. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi organ tubuh kita terutama pencernaan, hati dan ginjal. Bahkan dilaporkan beberapa kasus meninggal dunia karena Megavitamin dan megamineral, terutama pada anak. Hal ini terjadi karena kelebihan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin A, vitamin E atau Magnesium dan sebagainya

Pemberian vitamin tertentu seperti vitamin C dosis tinggi dan vitamin B pada orang tertentu seperti penderita gastritis (sakit lambung/mag), atau penderita alergi dapat menimbulkan efek samping baru atau memperberat penyakit yang ada sebelumnya. Pernah dilaporkan kasus pada orang tertentu dapat terjadi alergi vitamin B.

Sebaiknya memberikan vitamin sesuai dosis yang tertera, tidak menggabungkan sekaligus beberapa vitamin. Lebih baik bila berkonsultasi dengan dokter dalam konsumsi vitamin tersebut, terutama pada anak atau bayi. Lebih ideal bila asupan vitamin tersebut berasal langsung dari bahan makanan sayur atau buah.


2. PENGGUNAAN OBAT PERANGSANG NAFSU MAKAN

Pemberian obat-obatan perangsang nafsu makan pada anak tidak jarang diberikan oleh dokter atau klinisi lain yang diberikan pada anak dengan kesulitan makan. Terdapat beberapa macam obat penambah nafsu makan yang justru dapat menimbulkan masalah baru, karena malahan dapat mengganggu tubuh dan kesehatan anak. Beberapa obat penambah nafsu makan dapat mengganggu ginjal, hati, pertumbuhan tulang atau dapat menurunkan daya tahan tubuh. Peneliti lainnya menemukan pemberian obat-obatan nafsu makanan pada anak ternyata juga bisa mengubah perilaku anak menjadi hiperaktif, agresif, sangat sensitif dan gampang emosi. Penggunaan obat-obat tersebut dalam jangka waktu lama sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter.


3. PENGGUNAAN RAMUAN TRADISIONAL

Pengobatan tradisional dengan menggunakan zat herbal atau tumbuh-tumbuhan telah diyakini oleh beberapa pakar obat tradisional. Disamping aman bagi tubuh obat tradisional juga relatif lebih murah. Meskipun relatif aman pemberian ramuan tradisional harus hati-hati terutama anak di bawah 1 tahun. Sebaiknya pemberian tersebut harus dikonsultasikan kepada dokter anak yang merawat. Sampai sejauh ini penelitian ilmiah tentang khasiat obat tradisional untuk pengobatan kesulitan makan pada anak masih belum banyak dilakukan. Tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan kandungan dan khasiat dari zat aktif obat tradisional tersebut yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan fungsim organ tubuh lainnya.


VII. PEDOMAN UMUM PENANGANAN KESULITAN MAKANAN

Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Di bawah ini terdapat pedoman umum tentang cara penaganan kesulitan makan tersebut.

1. CARA PEMBERIAN MAKAN PADA ANAK DENGAN KESULITAN MAKAN

Cara pemberian makan yang baik dan benar sangat berpengaruh terhadap selera makan pada anak. Berikut ini terdapat beberapa cara dan petunjuk untuk mengatasi kesulitan makan pada anak.

· Beri jumlah makanan secara bertahap sedikit demi sedikit tapi sering, jangan terlalu bernafsu untuk memberi sekaligus banyak pada anak dengan masalah pencernaan.

· Bila menyuruh makan pada anak harus dengan suara lemah lembut dan dengan pendekatan yang baik tanpa memaksa. Jangan dengan perasaan emosi, marah atau dengan nada tinggi dan bersifat menekan.

· Bila sudah tiba saat jam makan tapi anak sedang asyik bermain, jangan langsung dihentikan mendadak permainan si anak. Cobalah anak untuk diingatkan sebelumnya, misalnya berkata dengan lembut : sepuluh menit lagi permainannya harus berhenti ya… karena adik harus makan siang !..

· Buatlah suasana makan itu menyenangkan dengan pembicaraan yang menarik bagi anak. Kurangi pembicaraan mengenai makan itu sendiri. Suasana yang "mencintai dan mendukung" amat diperlukan. Terimalah bila anak tidak menghendaki suatu jenis makanan tertentu, tetapi jelaskan nutrisi yang terkandung dalam makanana tersebut tanpa terkesan ‘memaksa’.

· Sajikan makanan-makanan sederhana, makanan yang mudah dikenali. Anak usia kanak-kanak awal ini biasanya ingin mengetahui apa yang dimakannya dan menolak makanan yang dicampur, sehingga mereka tidak mengenal bentuknya, misalnya gado-gado.

· Jika mungkin sajikan makanan yang dapat dipegang, misalnya kentang goreng, tempe, sate bdan sebagainya.

· Setiap kali hanya mengenalkan satu jenis makanan baru.

· Sajikan dalam porsi kecil, terutama makanan yang baru dikenal atau yang tidak disenanginya.

· Perhatikan penampilan dari bentuk, tekstur, warna dan rasa dari makanan. Kreatiflah dalam menyajikan makanan, misalnya membuat dadar telur yang berwajah, dsb.

· Ikut sertakan anak untuk menentukan menu makanan yang hendak dimakan. Jika anak merasa menjadi bagian dari aktivitas, maka biasanya mereka menjadi lebih tertarik. Gunakan lembar berisi informasi tentang makanan beserta gambar, misalnya daging, telur, ayam, ikan sayur-sayuran. Bantu anak merencanakan makanannya dengan gambar piring yang akan diisi dengan makanan apa yang hendak dimakan hari ini

· Berilah contoh makan yang baik bagi anak. Orangtua yang tidak bersemangat untuk makan atau rewel makan akan menjadi contoh yang buruk bagi anak, sebab anak biasa meniru tokoh yang berarti baginya.

· Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Beberapa ahli psikologi perkembangan anak tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.

· Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.

· Mempercantik tampilan makanan misalnya menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.

· Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa "anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru".

· Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.

· Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.

· Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginannya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.

· Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.

· Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.

· Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut). Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan.

· Kadangkala ajak anak anda untuk terlibat dalam perencanaan menu makanan sehari-hari, disertai pemahaman bahwa menu makanan bergizi sangat penting untuk kesehatan anak.

· Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat.

· Kebiasaan makan orangtua akan menjadi contoh bagi anak, karena itu biasakanlah menyantap makanan beragam. Pastikan hanya makanan sehat dan bergizi yang tersedia di rumah.



2. KESALAHAN CARA PEMBERIAN MAKAN



Meskipun tampaknya kesalahan pemberian makanan bukan sebagai penyebab utama kesulitan pemberian makanan. Tetapi perilaku pemberian makanan yang salah sering terjadi malah memperberat kesulitan makan pada anak, yang sudah ada karena dapat mengurangi selera makannya.


· Penurunan jumlah minum pada usia di bawah 2 tahun sering terjadi karena anak mulai dikenalkan pemberian minum air putih di dalam botol. Bila itu terjadi akan mengakibatkan semakin sedikit atau tidak mau minum susu. Karena bagi anak air putih rasanya lebih enak dan segar. Memang air putih tidak berbahaya bagi anak tetapi air putih tidak mempunyai nilai gizi dibandingkan susu. Tidak usah takut kekurangan air putih karena di dalam susu sudah terkandung air putih. Seorang peneliti pernah melaporkan bahwa anak yang sudah mulai dikenalkan air putih sebelum usia 2 tahun sering terjadi anak mengkonsumsi susu lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak minum air putih.

· Pemberian air putih untuk memperbaiki kesulitan buang air besar anak adalah tindakan yang tidak sepenuhnya benar. Memang dengan pemberian air putih mungkin akan sedikit membantu memperlancar kesulitan buang air besar. Tapi pemberian air putih yang berlebihan akan mengurangi masukan zat gizi lainnya. Memperbaiki masalah buang air besar adalah mencari penyebabnya, seringkali penyebabnya adalah reaksi dari jenis makanan tertentu misalnya coklat, susu, pisang atau buah tertentu lainnya. Mungkin juga penyebab lainnya adanya infeksi kronik seperti infeksi saluran kencing dll.

· Hindari pemberian permen yang manis, kacang-kacangan dan makanan ringan lain saat menjelang jam makan yang dapat mengurangi selera makan.

· Jangan memaksa anak untuk makan dengan cara yang sempurna seperti orang dewasa, misalnya makan tanpa berserakan

· Jangan memaksa anak untuk makan lebih banyak dari yang mereka inginkan.

· Orangtua yang sering memaksa anak makan tanpa memperhatikan kebutuhan anak akan makanan, membuat anak tidak pernah dapat membedakan antara rasa lapar dan keharusannya untuk makan, serta menganggap makanan sebagai hukuman bagi anak.

· Orangtua atau pengasuh yang sering memaksa anak makan, menyebabkan anak tidak menghargai makanan dan dapat mempermainkan makanan tersebut, sehingga anak tidak pernah belajar makan dengan benar.

· Demikian pula bila makan diberikan bukan dalam situasi makan tetapi bersama aktivitas lain, misalnya sambil bermain berjalan-jalan atau menonton TV

· Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh"

· Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan

· Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar

· Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.



F. PENDEKATAN PSIKOLOGIS

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat.

Sulit makan yang terus menerus dapat merupakan suatu proses atau reaksi emosional anak terhadap orangtuanya. Seringnya anak menerima ancaman atau hukuman karena menolak makan atau pengalaman yang tidak menyenangkan saat anak mulai mengenal makanan padat dapat pula berkelanjut menjadi anak dengan keluhan sulit makan.

Hubungan yang tidak sesuai dan tidak harmonis antara anak dan orang di sekitarnya atau antara anak dengan kondisi lingkungan akan menimbulkan reaksi penolakan secara psikologis berupa gangguan makan pada anak tersebut.

TIPS BAGI ORANG TUA DALAM MENCEGAH KESULITAN MAKAN SECARA PSIKOLOGIS

· Bina hubungan antara keluarga (ayah, ibu, saudara dan lainnya) dengan baik dan penuh kasih sayang. Jauhi penggunaan emosi yang berlebihan berupa teriakan, umpatan, membanting sesuatu, memukul atau tindakan kekerasan lainnya.

· Hindari stres yang berlebihan pada orang tua, bila sedang mengalami stres sedapat mungkin jangan diungkapkan di depan anak.

· Binalah komunikasi terhadap anak dengan sentuhan rasa kasih sayang dengan menggunakan suara yang lemah lembut, jauhi perasaan emosi, marah dan kecemasan.

· Buat jadwal secara rutin kebiasaan makan bersama, ciptakan suasana makan yang baik, penuh kasih sayang dan kekekluargaan. Jangan meniciptakan suasana penuh kebencian dan kemarahan saat makan bersama.


TIPS UNTUK MENCIPTAKAN VARIASI MAKANAN

Nafsu makan anak-anak berkurang dapat disebabkan oleh kurangnya variasi makanan yang diolah. Hal ini bisa ditanggulangi dengan:

· Mencoba dengan bahan yang sama tetapi dengan resep yang berbeda, misalnya :
Jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan seperti kue jagung, jenang jagung dan lain sebagainya.

· Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama misalnya :
Ketela pohon direbus kemudian dihaluskan,kemudian dikepal, di dalamnya diberi gula merah, dicelupkan dalam adukan 1 butir telor lalu digoreng, atau wortel (tambahkan daging bila ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan tambahkan kecap sedikit, gula dan garam secukupnya.


Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering dilakukan pemberian obat tradisional.


VIII. KESIMPULAN

Makan dan kebiasaan makan merupakan aspek yang penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan, terutama masa kanak-kanak awal. Kegiatan anak ini sering menjadi masalah baik bagi anak ataupun orang tua, khususnya bila terjadi kesulitan makan pada anak.

Penyebab kesulitan makan pada anak sangat banyak dan luas, yang tersering adalah adanya gangguan pencernaan, alergi, penyakit infeksi, dan gangguan psikologis. Penyebab lainnya seperti kelainan bawaan, gangguan neurologist, gangguan metabolic dan sebagainya sangat jarang terjadi. Jangan mudah memastikan bahwa penyebab kesulitan makan pada anak karena gangguan psikologis, sebelum dipastikan tidak adanya gangguan organ tubuh terutama pencernaan anak.

Pemberian vitamin tanpa mencari penyebab gangguan kesulitan makan pada anak bukan merupakan jalan keluar yang baik. Penanganan kesulitan makan pada anak adalah dengan mencari dan mengatasi penyebabnya secara langsung.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

1. Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.

2. Aronson, David. "No Laughing Matter: Young people who are overweight can face a lifetime of discrimination". Teaching Tolerance Magazine, Fall 1997.

3. Berg, Frances., ed. Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis. Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.

4. Carlson, Nancy. I Like Me! New York: Viking/Penguin, 1988. [Children's]Upbeat story of a young pig who likes all aspects of herself, including her round belly.

5. Gil, Eliana, PhD. "The Inner World of the Fat Child: Challenge for a Child Abuse Counselor" Radiance, the Magazine for Large Women, Fall 1987.

6. Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.

7. Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing Childhood Eating Problems: A Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food & Weight Conflicts Carlsbad, CA: Gürze Books, 1993

8. Kubersky, Rachel. Everything You Need to Know about Eating Disorders New York: Rosen Publishing Group, 1992.

9. Levine, Michael, PhD, and Hill, Laura, PhD. A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades 7-12 Tulsa, OK: NEDO, 1996.
Maine, Margo, PhD. Father Hunger: Fathers, Daughters, & Food Carlsbad, CA: Gürze Books, 1991.

10. Judarwanto Widodo, Kesulitan makan pada penderita alergi dengan gastroenteropati Atopi. (tidak dipublikasikan).

11. Satter, Ellyn, RD, ACSW. How to Get Your Kid to Eat...But Not Too Much: From Birth to Adolescence Palo Alto: Bull Publishing, 1987.

12. Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.

13. Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993

14. Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their children. International Journal of Eating Disorders, 25(3), 253-62.

15. Bryant-Waugh R., Lask B. Eating Disorders in Children. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.

16. Kreipe RE. Eating disorders among children and adolescents. Pediatrics in Review, 16(10), 370-9, 1995.

17. Marchi M., Cohen P. (1990). Early childhood eating behaviors and adolescent eating disorders. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry,29(1), 112-7.

18. Perry LM. Medicinal Plants of East and Southeast Asia. Attributed properties and uses. Copyright by The Masschussets Institute of Technology, 1980

19. Sjamsulhidajat SS, Hutapea JR. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Depkes RI. Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1991.




0 Comments:

Post a Comment

<< Home